Sunday, September 27, 2015

Ketika Anak Bermain Api

Sunday, September 27, 2015
"STOP!!! Udah dibilang jangan main api, ini malah mainan berdua sama ibunya."

Peringatan dari nenek spontan membuat Al, 3 tahun, berdiri sambil menyembunyikan korek api di belakang punggungnya. Pandangannya nampak terkejut sekaligus keheranan. Mungkin dalam pikirannya sudah terbentuk pertanyaan, "Kenapa tidak boleh mainan api?".


Saya sendiri hanya diam sambil menahan senyum melihat tingkah Al. Sengaja saya tidak ber-konfrontasi dengan si nenek yang tak lain adalah ibu saya sendiri. Selain tidak bagus mempertohonkan debat di hadapan anak kecil, saya juga memiliki alasan tertentu mengapa mengijinkan anak bermain api.

Boleh di bilang masa kecil saya sangat bahagia. Bebas dan merdeka. Bisa bermain di luar rumah, entah itu ke rumah teman, ke lapangan, ke sawah bahkan sungai yang memiliki aliran deras. Bermain layang-layang, memanjat pohon bersama teman-teman sebaya yang kebayakan laki-laki benar-benar membuat saya seperti anak perempuan ber-cover laki-laki. Sesekali dimarahi itu hal yang biasa. Bahkan saya pernah diikat di tiang penyangga rumah akibat salah satu kesalahan fatal saya. Kesalahan yang menyebabkan insiden kebakaran kandang ayam setelah acara bakar-bakaran gulali di kebun belakang.

saya, berpakaian hijau, dengan rambut cepak ala anak laki-laki (doc. pribadi)

Bisa jadi itulah alasan si nenek melarang Al bermain api karena usianya yang masih kecil. Jangan sampai Al mengikuti jejak ibunya  membakar property nenek seperti dulu. Namun saya adalah seorang ibu yang dulu pernah mengalami masa kecil bahagia dengan petualangan bakar-bakar gula untuk dibuat gulali, masak-masakan dengan teman-teman hingga membuat petasan. Masa yang tidak akan terulang dan menjadi masa yang penuh kenangan menarik. 

Kondisi saya dan Al berbeda. Dulu saya minim pengawasan karena ibu bekerja sedangkan saya sepenuh waktu bersama Al. Saya hanya ingin memberi kesempatan anak bermain api untuk merasakan sensasi yang sama ketika saya  bermain api saat kecil.  Tentunya bermain api dalam koridor yang saya buat dan sepakati bersama dengan Al. Jangan salah, anak usia 3 tahun sudah bisa memahami perjanjian bahwa ketika akan bermain korek api, Al harus saya temani. Bermainnya pun hanya di sekitar halaman rumah. Bahan-bahan yang boleh dibakar hanya sampah non organik kering seperti kemasan jajanan atau kertas bekas. Sejauh ini aman-aman saja. Bukankah dari situ kita juga bisa mengajarkan kemungkinan terburuk bermain api?

5 comments :

  1. Wahahaaaa.. Kena marah nenek. Pukpuk Al :*

    ReplyDelete
  2. Ceritanya bagus mba, Ayo fotonya mana

    Terima kasih sudah ikutan

    ReplyDelete
  3. Tapi tetap harus diawasi, ya, Mak ... Hehe. Ibu yang bijak. Sukses untuk GA-nya.

    ReplyDelete
  4. anak kecil memang suka mencoba apa saja yang penting tetap dalam pengawasan orang tua... :)

    ReplyDelete
  5. Dan Al pun bingung antara tetep main api atau berhenti, hihiii
    Tapi kebanyakan ortu selalu cemas kalo lihat anak-anak main api :)

    ReplyDelete