Wednesday, September 9, 2015

Kisah Suka Duka Mantan Model Seksi Berbisnis Grosir Jilbab Anak Lucu, Mengharukan!

Wednesday, September 9, 2015
“Saya dulu pernah terjerumus di dunia hitam mbak”, ungkapnya jujur. “Saya pernah berpakaian hampir telanjang di atas catwalk. Para sahabat sampai jijik saat ketemu saya. Itu semua karena lemahnya iman saya. Maka dari itu saya jadi ingin mengenalkan anak-anak  perempuan di Indonesia mengerti aurat dan belajar berhijab sejak kecil. Membiasakan berhijab itu tidak mudah”, demikian penuturan perempuan bernama lengkap Utisah yang kini menjadi produsen jilbab anak lucu.


Ibu dari Rizqi, Fauzan dan Rafa ini mulai berjualan tahun 2007. Barang-barang dagangan teman dan kerajinan dari flanel menjadi produk jualannya. Tahun 2008 Utisah mulai berjualan online. Utisah mulai berjualan jilbab topping sembari tetap menjual kerajinan pada tahun 2012. Namun akhirnya Utisah memilih fokus pada salah satu produk dan ia memilih usaha grosir jilbab anak lucu.


Bermodalkan nekat karena tidak memiliki ilmu yang cukup, Utisah mulai membuat jilbab dengan memberikan contoh produk ke penjahit berikut bahannya. Sembari menunggu proses produksi selesai, Utisah mulai memasarkan. Respon pasar lumayan bagus bahkan ada yang tertarik menjadi distributor. Namun sungguh terkejutnya Utisah ketika mendapati 500 pcs jilbab hasil produksi jilbab anak lucu tidak layak jual. Semuanya gagal.

Utisah down. Ia kembali menekuni usaha menjual kerajinan flanel. Namun rasa penasaran untuk usaha menjadi produsen jilbab anak lucu masih menggelayuti pikiran. Rasa kapok sudah menghilang, Utisah lalu kembali membuat contoh jilbab dan memberikannya ke pejahit berikut bahannya. Lagi-lagi GAGAL. Berulang kali Utisah berganti-gantu penjahit hingga 6 kali bahkan hingga ke luar kota. Utisah lalu menyadari bahwa ia kurang ilmu untuk menjadi produsen jilbab anak. Utisah kembali mengubur keinginannya.

Tahun 2014 Utisah tertarik kembali untuk menjadi produsen jilbab anak lucu. Bulan Oktober ia mulai produksi. Sebulan kemudian Utisah mengikuti seminar bisnis dan dari situlah Utisah paham mengapa ia gagal. Ilmu yang didapat dari seminar sedikit demi sedikit Utisah mempraktekakkannya. Syukurlah, hasil produksi jilbab anak berhasil. Kalaupun ada yang cacat produksi, jumlahnya tidak seberapa. Namun apakah itu pertanda perjalanan usaha Utisah mulai lancar?

Kita tunggu cerita selanjutnya minggu depan ...

4 comments :

  1. Dan tidak ada perjuangan yang tidak menghasilkan.

    Emang ya mak, namanya bisnis kalo kitanya ga penasaran buat lanjut. Bisa2 berenti tengah jalan ya. Cuma saya juga ngalamin sih mak. Yg namanya kadang ada aja yaa batu kerikil...hehee. tapi cool deh perjuangan mba Utisah. Semoga berkah bisnisnya. Amiiin

    ReplyDelete
  2. Hebat! Salut dgn kegigihan dan pantang menyerahnya Mak. Inspiratif. Nunggu kisah selanjutnya aahh

    ReplyDelete
  3. Kereeeeen! Saluttt dengan perjuangannya :)

    ReplyDelete
  4. penasaran sama kelanjutannya.. :)

    memang bener yaa..kegagalan itu jadi vitamin bagi para pengusaha. :)

    ReplyDelete