Skip to main content

Perlukah Bayi Batuk Pilek Diuapi?

"Sita diuapi ya Fen, bibirnya sudah membiru gitu"
sumber gambar google
 Belum genap kesadaran saya mencerna saran dokter yang rupanya teman seangkatan saat SMA, saya yang sedang menggendong Sita sudah berada di ruangan yang bersebelahan dengan ruang perika. Dengan cekatan salah satu perawat menyiapkan peralatan.Tak berapa lama masker sudah nangkring di atas hidung Sita yang otomatis membuatnya menangis kencang. Apalagi ketika uap hangat dari alat uap mulai keluar dan memasuki rongga hidung.

Selama proses diuapi, Sita terus menerus menangis dan meronta-ronta. Si kakak yang tidak tega ikut heboh berteriak-teriak menghentikan tindakan medis pada adiknya. Beruntung saat itu ada ibu yang kemudian mengamankan si kakak. Kurang lebih 15 menit proses di uapi selesai. Begitu masker diangkat, Sita langsung muntah mengeluarkan dahak sambil menangis tersengal-sengal. Perawat yang melihat saya panik kemudian menjelaskan itu efek diuap. Dengan keluarnya dahak pasti Sita merasa lebih lega, demikian penjelasan si perawat. Memang setelah itu Sita terlihat tenang jadi saya juga ikut lega.

Tiga hari sebelumnya, Sita memang sering batuk diiringi tangis yang tersengal-sengal lalu berujung muntah. Sepulang dari perjalanan jauh dengan AC, batuk Sita jadi terdengar serak hingga saya putuskan membawanya ke dokter. Sayang, dokter muda itu tidak memberikan penjelasan yang memuaskan bagi Fenny. Selepas mendampingi Sita di uap, dokter hanya menjelaskan larangan untuk menjauhkan Sita dari asap roko, asap kendaraan dan debu. Ditakutkan Sita terkena bronchitis atau asma.

Tentu saja penjelasan ini membuat saya ternganga. Rupanya jadwal dokter itu sudah selesai sehingga langsung meninggalkan saya yang sedang di ruang tunggu menunggu obat diracik.

Tidak puas dengan hasil periksa dan penasaran dengan tindakan medis diuap yang diberikan pada Sita, saya lalu browsing sesampainya dirumah. Dari beberapa sumber saya mendapati ada beberapa cara yang bisa diberikan pada bayi batuk pilek selain diuapi dengan nebulizer.
  • Cara yang pertama adalah dengan menjemur bayi di pagi hari, antara pukul 08.30 - 09.00 selama 20-30 menit dalam keadaan telanjang.

  • Cara yang kedua dengan meletakkan beberapa baskom berisi air panas yang di tetesi beberapa tetes minyak kayu putih di dalam ruang tertutup.

Ketika saya praktek kedua cara bayi batuk pilek diuapi diatas, Sita nampak lebih nyaman. Tak ada drama menangis meronta-ronta. Duh, saya jadi merasa bersalah tidak membekali diri dengan pengetahuan yang cukup tentang bayi batuk pilek diuap sehingga membuat Sita harus mengalami tindakan medis yang tidak nyaman baginya. Kini kondisi Sita sudah mulai membaik. Ada yang pernah mendampingi Bayi Batuk Pilek Diuapi?

Comments

  1. Aku pernah mb.. Nemenin Luna yg saat itu usia 18 bulan utk terapi uap dgn nebulizer. Ya sama, Luna nangis kejer, meronta2, jadi kita sampe harus nyencang badannya. Tpi kata terapisnya, kalo nangis malah bagus, jdi uapnya masuk ke tenggorokan.

    ReplyDelete
  2. Cara kedua yang meletakkan baskom air panas yang dikasih tetesan minyak kayu putih itu gk semua minyak kayu putih bisa lho untuk "terapi uap air" kayak gitu. Mungkin lain kali minta penjelasan aja kali ya. Soalnya diuap begitu emang normal sih kalo dirasa terlalu banyak lendir :)

    ReplyDelete
  3. iya mbak memang kadang diuap itu perlu kalo lendirnya banyak dan susah dikeluarkan. pengalaman anak saya dulu waktu umur 6 bulan juga gitu

    ReplyDelete
  4. Aku pernah baca kalau diuapi ga baik
    Ada efek sampingnya,,

    ReplyDelete
  5. anakku yang pertama hampir gitu juga mak, tapi ada bidan yang TEGAS ngasih saran ke saya, "perbaiki kualitas ASI aja "dengan banyak makan sayur dan buah terus porsi banyak, pokoknya bergizi githu....alhamdulillah bener juga, ga jadi diuap.
    (((tapi mungkin beda kondisinya ya))))

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Cara Menyapih Anak Secara Alami

“Fen, bagi tips menyapih anak dong. Al dulu disapih khan pas hamil Sita?”, tanya salah satu teman sekolah via WA. Saya otomatis nyengir saat membaca pesan tersebut. Meskipun menyandang predikat ibu dari dua orang balita, saya masih NOL besar untuk pengetahuan sapih menyapih, apalagi cara menyapih anak agar tidak rewel. Memang saat hamil Sita, si kakak Al baru berusia 1,5 tahun. Namun Al sudah tidak menyusu jauh sebelum saya hamil Sita. Al sudah berhenti menyusu sejak usia 8 bulan. Tanpa paksaan dan tanpa drama. Justru saya yang “drama” ketika Al berhenti menyusu. Pasalnya saya masih berkeinginan untuk menyusui. Terlebih  ada kampanye yang gencar tentang menyusui dengan predikat lulus S1, S2 sampai S3. Seorang anak dikatakan lulus S3 kalau bisa mendapatkan ASI sampai usia 2 tahun. Perasaan bersalah dan tidak becus menyusui anak sempat menghantui saat itu. Beberapa kali juga saya mendapat pendapat negatif ketika tahu Al sudah tidak menyusu padahal belum genap satu tahun. Termasuk teman…

Mengungkap Marketing Langit Vanilla Hijab, Rahasia Banjir Order Bisnis Jilbab Ribuan Paket

Beberapa kali saya melewatkan kesempatan untuk mendengarkan sharing langsung dari owner Vanilla Hijab. Padahal ada sekitar 3-4 kali kesempatan itu datang. Hingga akhirnya bulan kemarin ada info gathering salah satu komunitas bisnis di Jogja yang mengundang Atina dan Intan, kakak beradik yang menggawangi suksesnya Vanilla Hijab. Meski hampir saja kembali terlewatkan karena kuota penuh, akhirnya pihak panitia menambah slot kuota peserta gathering. Alhamdulillah, tiket sudah ditangan. Tinggal berharap bisa benar-benar hadir di hari H.

Rahasia Instagram Marketing ala Vanilla Hijab, Pelopor Online Shop Hijab Warna Pastel

Assalamualaikum,  apakah ada yang menantikan tema postingan ini dengan tidak sabar? Hmmm …. bagi pembaca postingan tentang Vanilla Hijab sebelumnya, tentu tidak sabar bukan? Pasti antara gemes gemes penasaran rahasia apa dibalik kesuksesan Vanilla Hijab menggunakan media instagram untuk promosi produknya.

Baca juga: Mengungkap Marketing Langit Vanilla Hijab, Rahasia Banjir Order Bisnis Jilbab Ribuan Paket