Skip to main content

4 TIPS AGAR ANAK MAU MENDENGARKAN ORANG TUA

Ketika Al mulai menginjak usia 10 bulan, Fenny sudah merasakan tidak nyaman karena terlalu sering mengatakan, “Jangan! Bla bla bla ….”. Ditingkahi dengan ekspresi Al yang pasti akan melongo memandangi ibunya membuat Fenny merasa jengah. Fenny merasa harusnya ada cara yang lebih baik ketika menghadapi Al yang sudah bisa bereksplorasi dengan merangkak.

Suatu hari saat Fenny berselancar di facebook,ada salah seorang teman yang menandai Fenny dengan poster acara yang berkaitan dengan workshop parenting, “Tips agar Anak Mau Mendengarkan Anda”, demikian judul acara yang tertera. Seketika itu juga Fenny menyadari ini lah yang akan menjawab keresahan tentang komunikasi ibu dan anak. Beruntung Fenny berteman di facebook dengan orang yang menjadi kontak person acara, bahkan beliau mau memberikan talangan dana karena Fenny tidak bisa transfer sebesar Rp 25.000,- via atm. Terima kasih mbak Qq, bunda Rayyis.



Tiket sudah di tangan. Meskipun harus menempuh jarak Klaten-Yogyakarta dan tidak terlalu mengenal daerah lokasi acara, Bismillah Fenny berangkat menimba ilmu. Sempat kesasar dan berhenti sejenak di warnet untuk mencari tahu persisnya tempat acara melalui google map. Semakin cemas ketika orang-orang yang Fenny tanyain juga bingung dengan lokasinya. Ketika berhenti di lampu lalu lintas, Alhamdulillah ada bapak-bapak yang tahu persis dengan tempat yang Fenny cari. Ternyata Fenny sudah melewatinya tapi tidak mengetahui sebelumnya.

Setelah mengucapkan terima kasih dan berbalik arah, akhirnya Fenny menemukan restoran sushi, “Kawaii Sushi” yang jadi satu dengan SPBU. Suasana lantai 1 restoran sepi karena saat itu saat bulan puasa. Ketika naik ke lantai II, sudah beberapa orang yang datang termasuk mbak Qq dan suaminya. Setelah registrasi ulang dan membayar pengganti uang tiket, Fenny mendapatkan goodie bag mungil yang berisi beras merah organilk dari Eka Farm. Asyiiiiik…bisa untuk menu sehat MPASI Al.

Acara segera dimulai saat bangku tempat duduk sudah mulai penuh. Tidak hanya ibu-ibu tapi ada juga beberapa bapak-bapak yang ikut serta *acungkan jempol ;). Mas Handli dari Eka Farm membuka acara dan memperkenalkan sedikit informasi tentang usaha yang dijalankan dan produk organik yang disediakan. Ternyata selain beras merah, Eka Farm juga menyediakan beras dan bekatul organik. Lebih lengkapnya bisa disimak di website resmi Eka Farm disini.

Perkenalan dilanjutkan dengan profil pembicara. Duma Rahmat, seorang praktisi di bidang pendidikan anak yang memiliki playgroup di jalan Kaliurang Yogyakarta dan masih menjadi penasihat di lembaga pendidikan anak di Jakarta. Sosoknya masih terlihat muda dan pembawaannya riang. Sebelum masuk ke materi utama, pembicara mengajak peserta seminar untuk saling berpasangan, ibu-ibu dengan ibu-ibu dan bapak-bapak dengan bapak-bapak. Diharapkan kedua saling tidak mengenal dan diminta berkenalan terlebih dahulu. Di sebelah Fenny duduk seorang ibu-ibu dan kami pun berkenalan. Ternyata kami diminta berpasangan untuk melakukan pemanasan. Pembicara mengajak peserta yang sudah berpasangan untuk bernyanyi dan mengikuti gerakan yang dicontohkan.



Berikut lagunya:

Ibu dan anak slalu berkacak pinggang
Ibu dan anak saling bermaaf-maafan
Ibu dan anak lalu berjabat tangan
Ibu dan anak berpelukan

Gerakan yang sesuai lirik diatas menyenangkan jika dipraktekkan dirumah bersama anak. Ketika lirik “Ibu dan anak” maka kedua tangan pasangan berpegangan dan bergantian di letakkan di pundak. Demikian pula ketika lirik berkacak pinggang, berjabat tangan dan berpelukan. Rasanya memang jadi lebih nyaman dan gembira setelah pemasanan. Ada rasa nyaman dan tidak lagi cangguh. Si ibu yang menjadi pasangan Fenny pun jadi lebih ceria.

Memasuki materi inti, pembicara mengatakan sebagian besar orang tua terjebak dalam komunikasi sebatas perintah dan larangan pada anak. Ketika anak diperintah tidak menuruti dan dilarang malah melanggar, maka orang tua mudah memberi label “nakal” pada anak. Label ini membuat anak menjadi zmenjadi-jadi dan orang tua makin frustrasi. Minim sekali usaha untuk memahami setiap tindakan dan keinginan anak.

Pembicara yang sudah menggeluti bidang pendidikan sejak lama menceritakan beberapa pengalaman menghadapi tingkah anak-anak yang beragam. Contohnya ketika menghadapi calon anak didiknya yang tidak mau sekolah. Hampir semingggu setiap paginya ada adegan anak tersebut menangis ketika diantar sekolah anaknya. Barulah kemudian ketika pembica mendekati anak dan mengajak si anak berbicara untuk membuat anak memahami bahwa di sekolah akan baik-baik saja. Ada bapak ibu guru yang akan menjadi orang tua kedua si anak. Cara ini pun berhasil dan si anak mau bersekolah.

Di lain waktu ada anak yang ketika di sekolah tidak mau meletakkan barangnya di tempat yang di sediakan. Ketika dipancing dengan menyembunyikan barang-barang miliknya yang diletakkan sembarangan seperti tas, sepatu dan lain-lain ternyata malah membuat si anak tidak merasa kehilangan. “Asyiiiik….jadi tidak terlalu berat bawanya”, demikian ujar si anak ketika ditanyakan barang-barangnya yang hilang *pingsan !. Hingga akhirnya pembicara turun tangan untuk mengajak anak ke ruangannya dan mengembalikan semua barang-barang yang disembunyikan. Ternyata si anak malu ketika harus membawa pulang kembali barang-barangnya. Kesempatan ini yang ditunggu oleh pembicara untuk menjelaskan pentingnya meletakkan barang di tempatnya. Si anak pun pulang dengan malu-malu membawa barang-barangnya dan esok hari sudah lebih tertib dan rapi.

Kisah lain terjadi ketika istirahat sekolah. Disaat yang lainnya asyik bermain seperti biasanya, ada beberapa anak yang tiba-tiba berbuat gaduh. Berulang kali terdengar benda jatuh yang cukup keras dan mengganggu warga sekolah lain termasuk bapak ibu guru. Alih-alih memarahi dan memerintahkan si anak berhenti, pembicara mendekati anak-anak tersebut dan ikut bertingkah seperti mereka. Masing-masing memegang salah satu sisi tangga. Berlari-lari kecil beriringan sambil membawa tangga dan sampai di satu titik, “Braaaaak!!!” tangga di lepas dengan tiba-tiba dan semunya tertawa. Pembicara pun ikut tertawa dan hal ini diikuti beberapa kali sampai akhirnya pembicara menyimpulkan bahwa suara keras yang ditimbulkan ketika  tangga dijatuhkan lah yang membuat mereka tertawa. Pembicara pun mengusulkan si anak-anak tersebut menyusun balok-balok di ruangan dan melemparkannya dengan bola. Sensai suasan dan suara yang didapat sama dengan membanting tangga. Si anak-anak ternyata antusias dengan ide tersebut dan berlari masuk keruangan. Pintu ruangan di tutup dan suasana pun kembali tenang.

Dari kejadian-kejadian tersebut, pembicara menyimpulkan bahwa sebenarnya mudah berkomunikasi dengan anak. Tidak perlu sampai membuat urat leher kencang arena berteriak, kepala migrain karena pening atau tenggorakan  kering karena berteriak. Cukup dengan 4 tips berikut agar anak mau mendengarkan anak.

  • Kondisikan diri tenang terlebih dahulu. Kondisi yang tenang dan santai membuat otak menjadi lebih mudah menangkap maksud dari hal apapun tanpa perlu dijelaskan dengan kata-kata. Jika hati sudah mulai meradang, ada baiknya mengambil nafas dan buang berali-kali sampai tenang barulah menyikapi anak.
  • Posisikan diri sebagai anak. Mengikuti tingkah anak-anak bisa memberikan kata kunci apa yang sebenarnya yang diiinginkan oleh anak.
  • Gunakan bahasa dan intonasi yang lembut. Melepaskan diri untuk berbicara dengan nada tinggi dengan emosi akan membuat anak memasang benteng sehingga semakin tidak mengerti  orang tuanya sendiri. Itulah mengapa banyak orang tua yang lelah memarahi anak namun anak tak kunjung jera.
  • Duduk disampingnya dan pandang kedua matanya. Posisi ini memberikan posisi nyaman pada anak ketimbang orang tua duduk didepan. Posisi orang tua di depan itu seolah-olah menghakimi anak. Ketika duduk disamping, sesekali orang tua bisa lebih mudah membelai dan memeluk si anak sambil berkomunikasi. Pandangan mata yang beradu akan membuat anak merasa diperhatikan benar-benar dan bisa melihat pancaran kasih sayang orang tua. Dengan demikian anak pun akan memperhatikan orang tua.
Tips ini juga berlaku untuk bayi yang belum bisa berbicara sekalipun. Berdasarkan pengalaman pembicara yang sebelumnya merasa kesulitan untuk mengajak putri pertamanya yang masih berusia hitungan bulan tertawa. Setelah mempraktekkan 4 tips tersebut ternyata putrinya memberikan respons yang diinginkan. Luar biasa ….

Gerak-gerik pembicara cukup energik dan lucu sehingga materi yang disampaikan dengan baik. Tidak terasa waktu berlalu dan sesi tanya jawab pun dibuka.Berikut beberapa tanya jawab yang Fenny ingat:
Pertanyaan (P): Kedua anak saya laki-laki dan keduanya sering berkelahi dan membuat keributan dirumah, bagaiamana solusinya?
Jawab (J): Solusinya adalah dengan membawa anak ke area bermain yang lebih luas dan menantang. Anak sering berkelahi dan membuat gaduh disebabkan karena energi tubuhnya tidak tersalurkan secara maksimal dan terarah.
P: Ketika berkomunikasi dengan bayi, apakah perlu untuk menggunakan bahasa cadel seperti yang biasanya dilakukan para orang tua?
J: Sebaiknya tetap gunakan bahasa yang baik dan benar karena itu yang akan terekam dalam otak si anak.
Setelah sesi tanya jawab, menu buka puasa pun sudah mulai disiapkan. Pembawa acara pun menyudahi acara setelah pembicara dan peserta kembali melakukan gerakan dan menyanyikan lagu diawal. Benar-benar menyenangkan.

Menu buka puasa disediakan oleh restoran sushi. Ada sushi roll, snack roti dan koktail. Enak sekali sushinya. Nori yang digunakan tidak pahit seperti yang Fenny cicipi saat makan ramen di restoran lain. Meskpin terlihat mini tapi mengenyangkan. Di belakang tempat duduk ada stan yang menyediakan aneka peralatan bento. Di restoran ini memang menyediakan bento dan sering kali mengadakan pelatihan. Jika berminat berlatih bento, restoran … cukupbagus untuk menjadi pilihan.

Selepas maghrib dan mengobrol sejenak dengan para peserta lain, Fenny pun berpamitan pulang terbelih dulu mengingat harus menempuh hampir 1,5 jam perjalanan untuk pulang mengendarai motor. Cuaca di luar dingin dan motor agak bagsah karena sebelumnya hujan. Setelah membungkus diri dengan mantol agar lebih hangat, Fenny pun melaju pulang dan membawa ilmu baru yang siap untuk bekal mendidik dan mendampingi tumbuh kembang Al.

Comments

  1. Sekarang sih para mahmud enak, banyak event parenting yang bisa diikuti. Kalo jadul, aku hanya ngikuti artikel majalah parenting yang hanya ada satu. Tapi so far, anak-anak tidak bermasalah selama ini :)

    ReplyDelete
  2. thanks sharenya mbaa, betul banget deh kita harus posisikan diri ke anak...berusha mengerti mereka walo hati dongkol..kalo lg marah sy biasanya minta waktu sm mereka utk tenangin diri walo kadang gabisa karena mereka mngintil terus :(

    ReplyDelete
  3. Hi...hi, paling susah klo dah nenu adegan berebut antar dua anak mb...

    ReplyDelete
  4. Aku sama kakakku dulu dirumah waktu kecil masih sering banget berantem, dan itu kebiasaan sampai SMP. soalnya, kami bareng terus. pas udah SMA, kami beda sekolah, baru deh jadi akur

    ReplyDelete
  5. Thanks ya mbak share nya. Saya pun sekarang sedang berusaha membangun komunikasi dengan sikecil sebaik mungkin. Lagi cerewet dia ngomong apa gitu saya ga ngerti tapi saya berusaha bersikap seperti pendengar yang baik, eh ternyata baby pun demikian kala saya ajak bicara dia mendengarkan. Thanks ya mbak share nya

    ReplyDelete
  6. mba Fenny, makasih ya tips2nya, lengkap banget, serasa ikutan acaranya juga :)

    salam kenal yaa..

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Cara Menyapih Anak Secara Alami

“Fen, bagi tips menyapih anak dong. Al dulu disapih khan pas hamil Sita?”, tanya salah satu teman sekolah via WA. Saya otomatis nyengir saat membaca pesan tersebut. Meskipun menyandang predikat ibu dari dua orang balita, saya masih NOL besar untuk pengetahuan sapih menyapih, apalagi cara menyapih anak agar tidak rewel. Memang saat hamil Sita, si kakak Al baru berusia 1,5 tahun. Namun Al sudah tidak menyusu jauh sebelum saya hamil Sita. Al sudah berhenti menyusu sejak usia 8 bulan. Tanpa paksaan dan tanpa drama. Justru saya yang “drama” ketika Al berhenti menyusu. Pasalnya saya masih berkeinginan untuk menyusui. Terlebih  ada kampanye yang gencar tentang menyusui dengan predikat lulus S1, S2 sampai S3. Seorang anak dikatakan lulus S3 kalau bisa mendapatkan ASI sampai usia 2 tahun. Perasaan bersalah dan tidak becus menyusui anak sempat menghantui saat itu. Beberapa kali juga saya mendapat pendapat negatif ketika tahu Al sudah tidak menyusu padahal belum genap satu tahun. Termasuk teman…

Mengungkap Marketing Langit Vanilla Hijab, Rahasia Banjir Order Bisnis Jilbab Ribuan Paket

Beberapa kali saya melewatkan kesempatan untuk mendengarkan sharing langsung dari owner Vanilla Hijab. Padahal ada sekitar 3-4 kali kesempatan itu datang. Hingga akhirnya bulan kemarin ada info gathering salah satu komunitas bisnis di Jogja yang mengundang Atina dan Intan, kakak beradik yang menggawangi suksesnya Vanilla Hijab. Meski hampir saja kembali terlewatkan karena kuota penuh, akhirnya pihak panitia menambah slot kuota peserta gathering. Alhamdulillah, tiket sudah ditangan. Tinggal berharap bisa benar-benar hadir di hari H.

Rahasia Instagram Marketing ala Vanilla Hijab, Pelopor Online Shop Hijab Warna Pastel

Assalamualaikum,  apakah ada yang menantikan tema postingan ini dengan tidak sabar? Hmmm …. bagi pembaca postingan tentang Vanilla Hijab sebelumnya, tentu tidak sabar bukan? Pasti antara gemes gemes penasaran rahasia apa dibalik kesuksesan Vanilla Hijab menggunakan media instagram untuk promosi produknya.

Baca juga: Mengungkap Marketing Langit Vanilla Hijab, Rahasia Banjir Order Bisnis Jilbab Ribuan Paket