Sunday, November 8, 2015

Mengenali Gejala Muntah dan Diare Pasca Demam

Sunday, November 8, 2015
Genap sudah tiga hari Fenny berkutat dirumah. Tidak bekerja. Tidak pula beraktivitas di luar rumah kecuali untuk memberli keperluan. Meskipun demikian Fenny tidak bersantai ria. Malahan Fenny harus berjaga pagi siang malam sampai pagi lagi. Sungguh tidak mudah berjaga nonstop apalagi begadang untuk tipe tukang tidur seperti Fenny. Kalau berjaga siang masih OKE, kalau malam seringnya KO.

Al yang pagi harinya sehat dan ceria tiba-tiba rewel di malam pertama. Badannya panas dengan batuk kering namun juga ada tanda-tanda pilek. Usut punya usut ternyata saat sore hari sepulang menonton karnaval 17 Agustusan di depan kantor Bupati, Al “mencuri” minum es teh milik si Tante. Kondisi badan capek dan kemungkinan es teh yang kurang higienis membuat ketahanan tubuh Al langsung drop. Walhasil Al terus menempel ke Fenny dengan badan panas tinggi. Dengan metode skin to skin, Fenny berharap panas badan Al bisa turun.

Al tetap tidur tidak terlalu malam seperti biasanya. Fenny pun membereskan beberapa pekerjaan yang belum terselesaikan. Baru saja mau tidur, tiba-tiba Al terbangun dan terbatuk-batuk. Belum sempat Fenny meraih Al tiba-tiba cairan menyembur dari mulutnya. Al spontan memeluk Fenny dengan kondisi tubuh basah padahal dada dan perut pun basah. Dengan sigap ibu yang ikut terbangun mengambil alih Al dan membersihkannya. Fenny pun membersihkan diri dan tempat tidur. Beruntung Al hanya terkulai lemas tanpa menangis jadi situasinya tidak terlalu panik. Sayangnya Al tidak mau membuka mulut untuk minum. Saat Fenny tepuk-tepuk perutnya ternyata kembung. Pantas saja Al tidak mau minum. Sepanjang malam berikutnya, Al terus terbangun akibat batuk diselingi muntah cairan.

Konsidi itu berlangsung esok hari. Al menangis kencang setelah terbangun dengan kondisi muntah dan diare. Sekujur tubuhnya basah. Betapa terkejutnya Fenny. Fenny peluk Al sambil membersihkan lantai sebisanya dengan tetap memeluk Al. Setelah Fenny membersihkan Al dan menggendongnya, Fenny tawarkan susu. Al menggeleng lemah sambil menyebut teh dan menunjuk-nunjuk gelas mbah kakung. Ketika Fenny sodorkan, Al mau meneguk beberapa kali. Hal itu berulang beberapa kali dalam sehari. Al terlihat lemas dan tubuhnya jadi ringan. Tidak ada asupan makanan yang tertelan dan hanya sedikit teh manis yang diminum. Malamnya sempat Fenny bawa ke PKU karena panas badannya belum turun. Lucunya Al terlihat lebih ceria dan mau jalan-jalan meski dengan badan terhuyung-huyung. Dokter pun menenangkan Fenny bahwa selama Al tidak panas sampai kejang kondisinya masih aman. Jadilah Fenny bawa pulang kembali Al.

Sesi begadang dan bersih-bersih semburan atas bawah masih berlanjut. Al mau minum susu tapi selalu dimuntahkan kembali setelah habis tertelan. Lagi-lagi Al meminta teh manis hangat. Akhirnya daripada beresiko muntah terus, setiap kali Al minta minum selalu Fenny kasih teh. Alhamdulillah bisa minum lebih banyak.

Hari kedua Al tak lagi muntah meskipun masih diare. Terkadang masih keburu saat Al bilang mau “eek” tapi lebih sering kelepasan. Hasilnya cucian menumpuk dan Fenny jadi rajin ngepel. Baunya jangan lagi ditanya. Beruntung ada ibu yang bantu bersih-bersih.

Genap tiga hari Al baru kembali pulih. Tiga hari itu pula Fenny ijin kerja. Selain Al yang maunya nempel terus, si Tante alias adik Fenny yang biasanya mau jagain selama Fenny kerja sementara mbah Uti dan kakung masih beraktivitas lebih sering terpana kalau Al muntah dan diare. Kalau diartikan sorot matanya seakan berkata,”Maaf, saya jijik”. Fenny pun memaklumi. Saat Fenny seusianya, tidak mudah untuk segera beraksi ketika ada yang muntaber. Hal ini lah yang membuat Fenny takjub. Seorang wanita ketika memiliki anak mengalami beberapa perubahan secara psikologis. Ada rasa tanggung jawab terhadap anak yang begitu besar. Ada cinta yang tidak perlu ditanya lagi kemurniannya. Ada ketulusan yang tidak diragukan. Tak terlintas jijik ketika menghadapi Al yang muntah dan diare. Tak sungkan memeluknya meski sekujur tubuh basah oleh muntahan atau pun ketika Al histeris saat dia diare. Yang ada hanya lah rasa ingin memberikan perhatian dan kenyamanan bahwa ada ibu disini, Nak.

Al kini sudah ceria dan aktif kembali meski trauma muntah setelah minum susu membuatnya menolak susu. Sisi positifnya nafsu makan Al bertambah sehingga asupan gizi dari makanan lebih banyak. Badannya sudah berisi lagi meski sempat menyusut drastis sebelumnya. Oh ya, beberapa hari yang lalu ada emak blogger menuliskan gejala yang sama pada anaknya. Beliau beruntung menemukan dokter yang benar-benar paham kesehatan anak. Dari penjelasan dokter, gejala muntah dan diare setelah anak demam itu wajar. Secara alami tubuh dirancang untuk mengeluarkan racun dengan cara muntah atau diare. Sepanjang tidak ada darah pada muntahan atau kotoran pup berarti tidak ada masalah di organ tubuhnya. Pantas saja meski obat diare dan infeksi pencernaan selalu dimuntahkan Al, muntah dan diare Al bisa sembuh. Alhamdulillah…

No comments :

Post a Comment