Monday, November 16, 2015

Perlukah Revaluasi Aset Terkait dengan Kebijakan Ekonomi Jilid V?

Monday, November 16, 2015
Sebagaimana tujuan dari paket kebijakan sebelumnya, revaluasi asset dimaksudkan untuk menggairahkan perekonomian. Diketahui bahwa dengan adanya perlambatan ekonomi banyak perusahaan yang merugi bahkan modalnya negatif. Harapannya dengan revaluasi asset dapat mempercantik posisi neraca karena akan ada penyesuaian nilai asetnya dari nilai perolehan menjadi nilai pasar. Lalu bagaimana revaluasi asset terkait dengan kebijakan ekonomi jilid V ddiberlakukan? Bagaimanakah kelebihan dan kekurangannya bagi wajib pajak yang bisa mempengaruhi keputusan perlu atau tidak revaluasi asset?

sumber gambar disini

Dalam aturan pelaksanaan revaluasi asset, ada fasilitas pajak dari yang sebelumnya diberlakukan normal sebesar 10%  menjadi lebih kecil dengan adanya insentif. Paket insentif revaluasi asset mencakup: 

  1. Revaluasi aset hingga 31 Desember 2015, tarif PPh 3%
  2. Revaluasi aset 1 Januari hingga 30 Juni 2016, tarif PPh 4%
  3. Revaluasi aset 1 Juli hingga 31 Desember 2016, tarif PPh 6%

Dengan insentif revaluasi asset ini pemerintah bertujuan agar penerimaan pajak bertambah dan target tercapai karena penerimaan pajak saat ini masih jauh dari target, makanya akan dikeluarkan paket-paket selanjutnya. Terlihat dari tarif yang murah bila revaluasi sd desember tahun ini yaitu hanya 3% , dengan kata lain mendapat diskon 7% dari tarif sebelumnya . Wajib pajak diharapkan bisa memenuhi kewajibannya setelah mendapatkan besaran pajak yang lebih kecil persentasenya,. Dengan begitu pemerintah tidak perlu banyaka uang untuk menggerakkan perekonomian.

sumber gambar doc. Zeti Arina
Menurut Zeti Arina, ada beberapa dampak bagi perusahaan yang melakukan revaluasi asset. Dampak tersebut diantaranya: 
  • Dengan revaluasi aset tentunya nilai asetnya bertambah sehingga biaya penyusutannya juga bertambah, bagi yang biaya penyusutannya sudah nol dampaknya tentunya kan menambah biaya dan dampaknya kan mengurangi laba, bila laba secara pajak berkurang tentunya pajak yang dibayarkan menjadi lebih kecil.
  • Bagi pemegang saham juga dapat tambahan saham yang bukan objek PPh, dan secara fiskal penghasilan neto akan lebih kecil dibanding tahun lalu.
  • Bila nilai asetnya naik tentu saja bila mau mencari pinjaman posisi neracanya menjadi lebih terpercaya bagi bank pemberi kredit.
  • Bagi perusahaan yang akan go publik atar merger  bisa menaikkan nilai saham sebelum initial publik offering (IPO)/merger

Menyikapi perusahaan yang tidak mau melakukan revaluasi asset karena tarif pajaknya cukup tinggi, konsultan pajak yang berkantor di Surabaya ini mengatakan bahwa yang namanya fasilitas tentu bisa digunakan, bisa tidak. Misalnya perusahaan yang merugi dan khawatir kompensasi ruginya tidak bisa di cover sampai 5 tahun mendatang maka tidak direvaluasi. Adapun asset yang boleh direvaluasi adalah property, dll

CEO Artha Raya Consultant ini menambahkan jika saat akan merevaluasi aset sebaiknya dibuat tax planning terlebih dahulu. Dengan demikian bisa diketahui apakah secara pajak menguntungkan. Bila menguntungkan lakukan revaluasi aset tetapi bila tidak ya sebaiknya tidak perlu di revaluasi

1 comment :

  1. Saya perlu baca beberapa kali untuk ngerti sama postingan ini. Hihihihi.. Berat mbak T_T

    ReplyDelete