Custom Pages

Thursday, May 12, 2016

Perlukah Titah pada Bayi?

Thursday, May 12, 2016
"Nah, rasain sekarang. Repot khan? Udah dibilang gak usah di titah. Jadinya malah manja."
Entah sudah berapa puluh kali ucapan itu dilontarkan oleh ibu saya semenjak Sita minta titah. Bermula titah pada bayi Sita yang dilakukan oleh ayahnya saat berusia 11 bulan. Si ayah antusias sekali ketika Sita mau melangkah barang dua-tiga langkah dengan posisi kedua tangannya berpengangan dengan tangan si ayah. Sita pun terlihat antusias dan girang. Sejak saat itu Sita selalu minta titah baik itu dengan berpegangan dua tangan atau satu tangan.

sumber gambar: www.dbiyoung.net

Meski sering diomeli oleh ibu, saya berusaha menuruti kemauan Sita untuk titah. Sengaja saya tidak membeli alat titah bayi karena saya berfikir tidak perlu. Mengingat si kakak, Al yang dulu bisa berjalan sendiri di usia 13 bulan, saya berfkir Sita juga akan demikian. Namun ketika mulai menginjak usia 14 bulan hingga menjelang 15 bulan Sita belum juga berani melepas pegangan ketika berjalan, disitulah saya mulai galau.

Sempat kepikiran apakah cara titah bayi yang benar tidak saya terapkan. Saya tidak mengenalkan titah pada bayi Al. Oleh karenanya saya tidak memiliki pengetahuan tentang cara titah bayi yang benar. Kebetulan bayi seumuran dengan Sita cukup banyak di lingkungan sekitar rumah. Ketika saya mengamati beberapa bayi yang dititah, rasanya tidak ada yang berbeda dengan cara saya.

Ketika saya membicarakan hal tersebut dengan suami, solusi pertama yang diberikan adalah membeli alat bantu titah bayi. Saat ini memang banyak toko online yang jual alat bantu titah bayi. Terang saja saya menolak. Meski harga alat buat titah bayi murah namun bagi saya malah merepotkan. Saya harus bongkar pasang alat bantu titah bayi. Belum lagi kemungkinan apakah Sita nyaman menggunakannya. Ketika menggunakan gendongan bayi modern yang ala kangguru itu saja, Sita tidak terlalu nyaman. Sita lebih menyukai di gendong dengan selendang tradisional.

Berkat bantuan tetangga yang "memaksa" Sita untuk melepaskan pegangan dan berjalan menuju arah saya yang duduk di hadapannya berjarak beberapa meter, saya mengetahui bahwa sebenarnya Sita sudah kuat berjalan. Bahkan keseimbangan Sita cukup bagus. Ketika pertama kalinya Sita bisa melangkah tanpa pegangan tangan, Sita langsung bisa berjalan beberapa langkah dan berbelok arah tanpa jatuh. Berdasarkan hal ini saya menyimpulkan bahwa memang titah pada bayi cenderung membuat bayi jadi bergantung. Terlepas dari kemampuan perkembangan motorik bayi yang tidak selalu tepat waktu yang sama satu sama lain, titah pada bayi membuat saya tidak bisa beraktivitas secara produktif ketika Sita bangun. Jadi dengan pertimbangan bahwa titah pada bayi bisa menyebabkan bayi cenderung bergantung dan menyita waktu orang tua atau pengasuh, saya menyimpulkan tidak perlu titah pada bayi. Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk menstimulasi perkembangan motorik anak, khususnya melatih berjalan.

Sejak itulah kemudian saya minta bantuan bapak ibu ketika malam hari untuk melatih Sita. Sita menolak pada awalnya. Ketika Sita mengetahui tanda-tanda akan dilatih melepaskan pegangan, Sita akan menggelendot manja. Namun lama-lama Sita mau dan tepat sehari setelah usianya 15 bulan, Sita bisa berjalan sendiri tanpa pegangan beberapa kali dengan jarak yang lumayan jauh dan berputar-putar. Lega rasanya ....

4 comments :

  1. ANAKKU dulu juga titah, dr 8 bulan malah
    Tetangga yang paling rajin...
    Hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enak dong ada yang bantuin, lha Sita ga mau klo selain aku :(

      Delete
  2. alhamdulillah sekarang sita sudah pinter jalan sendiri :-*

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete