Sunday, February 12, 2017

Mendobrak Predikat Ibu Rata-Rata dengan Daluang, Doodle dan Clutch Bag di Pesona Jogja Homestay

Sunday, February 12, 2017
Beberapa waktu yang lalu, postingan bertema ibu rata-rata sempat viral di timeline sosmed Fenny. Postingan yang kurang lebih bercerita tentang seseorang yang sudah menjadi ibu tapi kemampuan memasak diragukan, merasa tidak memiliki bekal pengasuhan anak, dan paling sering tampil kumal di hadapan suami ketimbang rapi dan wangi seperti sunnah nabi. Ternyata banyak yang mengamini dan merasakan hal yang sama. Begitupun dengan Fenny. Adakalanya rasa “kok cuma begini” menghinggapi. Pertanyaan mengapa tidak seperti ibu X yang menyandang ibu professional, tidak seperti  mbak D yang jadi selebgram karena jago memasak, tidak seperti Teh Y yang cara mengasuh anaknya saja dibukukan hingga terjual puluhan ribu eksemplar dan masih banyak lagi seringkali membuat hati jadi minder.


Ternyata jika diperhatikan, seseorang yang nampak di luar rata-rata itu sebenarnya memiliki satu kemampuan yang cukup menonjol. Kemampuan yang senantiasa diasah dan dibagikan hingga bermanfaat. Tengok saja mbak Tanti Amelia, seorang pekerja seni yang kini fokus di bidang doodle. Ketrampilan corat-coret ala doodling ini membawa mbak Tanti sampai ke Malaysia gratis. Dan yang terbaru, mbak Tanti diundang menjadi pengisi workshop doodle diatas kertas daluang kerjasama Kriya Indonesia dan Pesona Jogja Homestay. 

Oh ya, mbak Tanti ini awalnya Fenny kenal sebagai blogger dan pernah satu buku antologi berjudul  “11 Warna Warni Pelangi Cinta” bersama  9 teman lainnya. Dengan semangat 45 supaya bisa kopdar dengan mbak Tanti sekaligus menambah wawasan tentang doodle, Fenny daftar acara dan Alhamdulillah lolos jadi peserta. Alhamdulillah lagi, gratis, hehehe…


Setelah tersasar hampir satu jam mencari lokasi gara-gara mengikuti rute arahan Google Maps yang ngaco, sampailah Fenny di Pesona Jogja Homestay. Guest house yang satu ini unik. Bentuknya cluster seperti townhouse. Sempat mengintip-intip masuk saat makan siang. Asli sempat berdoa dalam hati, “Ya Allah, beri satu rumah macam ini. Hamba mau banget, aamiin”. Setiap satu bangunan terdiri dari 4 kamar (dua kamar di lantai atas, 2 kamar di lantai bawah), satu ruang tamu, dapur mungil dengan tata letak yang apik dan pencahayaan alami yang maksimal. Ad ataman cantik di depan dan belakang. Terasnya bisa untuk nongkrong cantik sambil melihat canda ikan di kolam. Garasinya cukup untuk memuat satu mobil. Duh, rumah impian Fenny banget ini. Sayang belum kesampaian untuk staycation. Dan ternyata pas pulang, ketemu tuh jalan yang sebenarnya. Pesona Jogja Homestay yang terletak di Gang Pandu No. 484, Tahunan, Umbulharjo, Tahunan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55167 ini ternyata mudah di akses dari arah Jalan Kusumanegara, masuk jalan Celeban setelah Makam Taman Pahlawan, lurus saja sampai ketemu papan nama Pesona Jogja Homestay.

Fenny buru-buru daftar ulang dan meluncur ke bangunan yang paling pojok kanan. Ruang tamu guest house cukup longgar untuk tempat lesehan peserta workshop. Mbak Tanti dan peserta sudah mulai meski nampaknya baru perkenalan.  Mbak Tanti menantang peserta untuk membuat doodle selama 3 menit berbekal selembar kertas dan beberapa spidol beberapa warna. Peserta diminta untuk menggambar bebas meski mbak Tanti memberi contoh di depan. Tujuan tantangan ini supaya peserta bisa melatih dan melemaskan jari-jemari untuk menggambar. Duh, itu kalau sudah pakar doodle, asal corat-coret aja bisa terkonsep gambarnya. Sebuah konsep tata kota yang riuh ramai dengan ancaman monster nampak bernilai seni. Jauh beda dengan milik Fenny yang abstrak.


Mbak Tanti juga mengenalkan beberapa pakem teknik doodle. Dua diantaranya teknik mandala dan zentangle. Konsep mandala lebih ke teknik sulur sedangkan zentangle lebih pada teknik geometri garis-garis. Konon, teknik zentangle ini juga diajarkan di sekolah anak usia dini karena bisa melatih konsentrasi dan ketekunan.

Setelah berlatih bebas, tantangan selanjutnya adalah doodling diatas kertas daluang. Apa itu kertas daluang? Sayangnya Fenny tidak mendapat keterangan langsung dari professor Sakamoto karena terlambat. Berdasarkan informasi dari live tweet blogger lain yang juga ikut workshop, daluang (atau d(e)luang) adalah lembaran tipis yang dibuat dari kulit kayu pohon deluang (Broussonetia papyrifera) yang dipakai untuk menuliskan sesuatu (seperti kertas).

Selain daluang, peserta juga mendapat beberapa bahan pendukung untuk membuat clutch bag. Alamak, ini di tantang untuk menjahit juga. Clucthbag kali ini menggunakan beberapa bahan seperti busa, kain kain pelapis, sepasang kancing dan daluang yang sudah dihias doodle. Pemateri workshop menjahit ini adalah mbak Astri Damayanti yang aktif di komunitas Kriya Indonesia dan jago menjahit. Ketrampilan menjahitnya tertuang di beberapa buku yang juga ikut mejeng manis di meja resepsionis. Satu bukti lagi bahwa perempuan bisa menjadi ibu luar biasa dengan satu kemampuan yang ditekuni.

Jadi langkah-langkah membuat clutchbag adalah sebagai berikut:
1. Busa yang sudah dipotong sesuai pola dilapisi dengan kain dengan cara dijahit sehingga menutupi satu sisi busa.
2. Di sisi busa yang lain dilapisi kain dengan cara di setrika. Bagian yang kasar menempel busa, bagian yang halus di setrika. Jangan sampai terbalik seperti yang Fenny lakukan karena ternyata kainnya menempel di setrika, huhu
3. Pasang kancing di bagian atas dan bawah busa. Jenis kancing kait ini cukup dipasang dengan membuat lubang di busa dibantu dengan alat pelubang. Masukkan kancing ke dua lubang yang sudah dibuat dan tekan bagian kait belakangnya berlawanan arah. Demikian pula dengan kancing dibagian atas.
4. Pasang daluang yang sudah di hias ala doodle dibagian pola busa segiiga atas. Jahit di sekeliling sisinya.
5. Terakhir lipat bagian kotak pola busa menjadi dua bagian dan jahit di sisi kanan kiri. Balik hingga bagian yang dijahit dan tidak rapi menjadi di bagian dalam.
6. Taraaaa… clutch bagi sudah jadi.
Untungnya selama menjahit, Fenny mengunakan mesin jahit merk Brother. Selama menjahit, ada beberapa jenis jahitan yang Fenny gunakan. Untuk berganti pola jahitan sangat mudah. Cukup memutar roda sesuai angka jenis pola jahitan. Praktis bukan? Mesin jahit ini menggunakan dinamo jadi untuk menjalankannya cukup menekan pedal. Tak terbayangkan deh missal Fenny yang baru pertama kali megang mesin jagit ini kalau harus “mengayuh” pedal mesin jahit manual. Sempat mengalami benang bawah yang habis, Fenny jadi tahu cara mengisi benang bawah dan memasangnya. Saking mudah dan canggihnya ini mesin jahit, mas-mas intruktur membantu masang dengan cepat sehingga Fenny hanya bisa melongo, hahaha. Kalah deh ibu-ibu ini untuk urusan mesin jahit kalau dibanding sama mas ganteng itu, eh.

Meski hasil doodling dan menjahit clutch bag masih jauh dari kata sempurna, hati Fenny bahagia. Setidaknya ada pengalaman dan tambahan wawasan yang belum Fenny ketahui sebelumnya. Hitung-hitung bekal  jika nantinya bisa menekuni, terutama jika suami mengijinkan beli mesin jahit Brother itu. “Pak, diskon lho pak, biar istrimu ini tidak jadi ibu rata-rata”, rengek manjah.

Jadi, sebenarnya untuk menjadi ibu luar biasa itu mudah. Tidak harus menguasai A-Z untuk menjadi seseorang yang patut diperhitungkan. Minimal bisa bikin clutch bag sendiri tanpa harus nodong ke suami, jahit kancing suami yang lepas atau celana yang bolong akibat suami banyak gaya pun bisa jadi membanggakan, ya khan? 

2 comments :

  1. Seru ya acaranya, dan pulang2 bawa hasil yang membahagiakan.

    ReplyDelete