Custom Pages

Friday, July 14, 2017

Cara Menyapih Anak Secara Alami

Friday, July 14, 2017
“Fen, bagi tips menyapih anak dong. Al dulu disapih khan pas hamil Sita?”, tanya salah satu teman sekolah via WA. Saya otomatis nyengir saat membaca pesan tersebut. Meskipun menyandang predikat ibu dari dua orang balita, saya masih NOL besar untuk pengetahuan sapih menyapih, apalagi cara menyapih anak agar tidak rewel. Memang saat hamil Sita, si kakak Al baru berusia 1,5 tahun. Namun Al sudah tidak menyusu jauh sebelum saya hamil Sita. Al sudah berhenti menyusu sejak usia 8 bulan. Tanpa paksaan dan tanpa drama. Justru saya yang “drama” ketika Al berhenti menyusu. Pasalnya saya masih berkeinginan untuk menyusui. Terlebih  ada kampanye yang gencar tentang menyusui dengan predikat lulus S1, S2 sampai S3. Seorang anak dikatakan lulus S3 kalau bisa mendapatkan ASI sampai usia 2 tahun. Perasaan bersalah dan tidak becus menyusui anak sempat menghantui saat itu. Beberapa kali juga saya mendapat pendapat negatif ketika tahu Al sudah tidak menyusu padahal belum genap satu tahun. Termasuk teman saya yang bertanya via WA tersebut.

Proses Sapih Al (( dengan cara menyapih anak secara alami ))

Al lahir dengan persalinan normal yang membuat saya sudah kembali beraktivitas secara normal H+1. Belum puas menikmati euphoria sebagai seorang ibu yang ingin mengasuh anak dengan tangan sendiri, kedua orang tua saya sudah mewanti-wanti untuk segera mencari pekerjaan. Status saya sebagai freelance dengan kemampuan menulis dianggap tidak cukup untuk menjamin masa depan anak semata wayang saya. Saya mencoba nego bahwa saya akan mencari pekerjaan setelah Al usia 6 bulan, minimal bisa lulus S1 alias ASI eksklusif selama 6 bulan. Orang tua pun mengiyakan meski setiap hari saya harus mendengar ceramah tentang pentingnya segera mencari pekerjaan. Terlebih saya mengantongi ijazah S1.

Masa enam bulan menyusui Al secara eksklusif terpenuhi. Tepat 6 bulan 1 hari, ibu sudah menyiapkan sekotak susu formula berikut perlengkapannya. Bahkan ibu rela berangkat kerja jalan kaki ke tempat kerja yang berada di dukuh sebelah supaya saya bisa menggunakan motor untuk melamar pekerjaan. Sebanding dengan persiapan ibu, saya pun sudah menyiapkan beberapa botol ASIP dan pompa ASI untuk menyiapkan ASIP yang bisa diminum Al saat saya bekerja. Tidak butuh waktu lama bagi saya memperoleh pekerjaan meski harus ke kota sebelah. Stok ASIP mencukupi setiap harinya. Saya pun dengan tenang meninggalkan AL tanpa takut kebutuhan ASI akan kurang meski saya bekerja.

Lokasi tempat kerja yang menuntut saya berangkat jam 6 pagi dan sampai dirumah paling cepat jam 6 sore membuat saya hanya bisa menyusui Al langsung saat Al terbangun di malam hari dan dini hari. Bayi Al tipikal bayi yang tenang. Jarang sekali menyusu di malam hari. Lama kelamaan bahkan Al tak lagi menyusu di malam hari. Puncaknya ketika saya libur dan Al tidak berniat menyusu meski sedari pagi dalam gendongan saya. Saya kebingungan. Saya mencoba memaksa Al menyusu karena saat itu posisi payudara juga sudah membengkak penuh ASI. Al menangis hingga mengundang perhatian kakek neneknya. “Sudah, sudah tidak perlu dipaksa. Al  sudah terbiasa minum susu pakai dot”, ujar si nenek. “Lagipula sudah lama dia tidak minum ASI. Paling Al sudah tidak suka.”

Ucapan si nenek membuat saya terkejut. Ternyata ASIP yang selalu saya siapkan tidak pernah diberikan pada Al. Ibu saya takut ASIP tidak higienis dan membahayakan cucunya. Maklum ibu saya belum mengenal ASIP sebelumnya. Jadi meski saya sudah memberikan edukasi ternyata itu belum cukup menyakinkan ibu. Ibu beranggapan bahwa tidak masalah anak minum sufor karena keempat anak ibu memang tidak full ASI mengingat ibu adalah ibu bekerja dan tidak pernah mengenal teknologi penyimpanan ASIP di jamannya menyusui. Tak pelak betapa kecewanya saya saat itu. Saya pun hanya bisa melampiaskan kekecewaan saya pada orang tua dengan berhenti bekerja keesokan harinya untuk bisa kembali merawat Al meski tak lagi bisa menyusui.

Proses Menyapih Sita (( cara menyapih anak dengan cinta ))

Sita lahir ketika kondisi finasial saya sudah mulai dianggap mapan oleh kedua orang tua meski masih berstatus freelance. Oleh karenanya tak ada lagi drama saya harus meninggalkan anak untuk bekerja diluar rumah. Otomatis saya bisa menyusui Sita hingga dua tahun.

Intensitas Sita menyusui jauh berbeda dengan kakaknya. Al cenderung menyusui sekali dua kali hingga kenyang lalu lebih banyak tidur. Sedangkan Sita tipikal bayi yang suka “ngempeng”. Selain frekuensi menyusui yang luar biasa, waktu menyusui pun lebih lama. Bahkan Sita akan terbangun ketika saya melepas payudara dari mulutnya.

Memasuki usia 1 tahun 9 bulan, saya sudah mulai sounding Sita bahwa sudah saatnya berhenti menyusu ketika umur dua tahun. Saya selalu sampaikan bahwa ketika usia 2 tahun, Sita sudah sudah bukan bayi melainkan sudah anak-anak. Jadi sudah tidak menyusu. Malu sama adek-adek bayi. Respon Sita pun mengangguk-angguk lucu seolah memahami. Saya jadi percaya diri dan yakin bahwa Sita akan mudah disapih ketika saatnya tiba.

Tepat di usia dua tahun, saya mulai menyapih Sita. Hasilnya benar-benar diluar dugaan. Sepanjang pagi siang hingga malam Sita menangis. Sita terus meminta perhatian saya. Kakek, nenek, ayah bahkan saudara sepupu tak mampu mengalihkan perhatiannya. Pertahanan saya jebol keesokan paginya. Semalam berjaga membuat saya kelelahan lalu menyerah untuk menyodorkan payudara lalu terlelap bersama Sita.

Suami lalu bercerita tentang temannya yang sering diminta bantuan untuk menyapih. Meski harus jauh-jauh ke Magelang dari Klaten pun saya sambangi. Saya pulang membawa bekal nasi putih untuk dimakan Sita dan kapur sirih dan kunyit untuk dioleskan di payudara. Sita hanya mau makan nasih putih dua suap dan olesan kunyit campur kapur sirih tak membuat Sita gentar untuk menyusu.

Ketika mendatangi dukun pijat langganan Sita, saya pun bercerita tentang perjuangan saya menyapih Sita. Kali ini saya dibekali buah mahoni. Konon buah ini jika dioleskan ke payudara akan memberika rasa pahit yang membuat jera untuk menyusu. Malam harinya saya oleskan buah mahoni yang berwarna putih. Iseng saya menjilatnya dan hueeeek … pahit! Ada rasa optimis akan berhasil menyapih. Sayangnya, meski berhasil membuat Sita muntah-muntah efek rasa pahit ketika menyusu ternyata tidak serta merta membuat Sita kapok.

Saya pun menyerah untuk menyapih Sita. Terlebih ketika ibu bilang bahwa dulu si adik bungsu saya juga menyusu hingga usia 3,5 tahun karena ibu tidak tega menyapih. Takdir seolah berkata bahwa saya juga harus menyusui hingga Sita berhenti dengan sendirinya. Parahnya saya mengamini dan proses menyusu Sita berlanjut. Hingga tak terhitung berapa banyak saran yang saya terima demi bisa menyapih Sita.

Saat libur lebaran, saya berada dirumah bapak ibu. Sejak sore Sita bermain dengan kakek hingga kemudian digiring kakek untuk masuk kamar. Entah apa yang dilakukan si kakek hingga tak lagi terdengar suara Sita. Si kakek keluar dari kamar sembari berucap, “Sudah bisa tidur tanpa menyusu bukan? Coba disapih lagi besok”. Saya pun menganguk-angguk antara siap tidak siap untuk kembali menyapih.

Sita masih menyusu hingga saya kembali ke rumah Magelang. Semalaman Sita tidur tanpa lepas menyusu. Tiba-tiba muncul rasa lelah dan bosan menyusui Sita hingga usianya 2,5 tahun. Spontan saya bilang akan menyapih Sita pada suami hari itu juga. Beruntung suami lalu memutuskan untuk siap siaga dirumah untuk membantu.

Perjuangan dimulai ketika sekitar jam 8 Sita ingat untuk menyusu. Saya berusaha mengalihkannya dengan menggendong lalu mengajaknya keluar rumah sambil membawa susu UHT. Sita lupa akan keinginan menyusu lalu bermain bersama anak-anak sekomplek. Jelang dhuhur Sita kembali rewel. Kembali saya menggendongnya dan berakhir saya diamkan dikamar sambil saya pura-pura tidur. Suara tangis Sita merendah dan ajaib, Sita tertidur. Sore ketika bangun kembali Sita memulai drama. Lagi lagi saya menggendongnya dan mengalihkan perhatiannya. Demikian seterusnya hingga malam Sita tertidur bersama si ayah. Alhamdulillah, cara menyapih anak agar tidak rewel ini berhasil.

Proses menyapih anak dengan cinta berlangsung hingga 3 hari kedepan. Selama proses menyapih, saya tidak berani tiduran meski untuk sekedar rehat karena takut akan mengundang Sita untuk menyusu. Sungguh luar biasa lelahnya. Namun kali ini usaha saya tidak sia-sia. Mulai hari ketiga, ketika siang hari Sita lebih sering tertidur dengan sendirinya ketika saya tinggal beraktivitas. Malam harinya, saya mengkondisikan Sita untuk siap tidur usai cuci muka, tangan, kaki dan mengajaknya masuk kamar. Kamar posisi saya kunci dan bebas mainan. Lampu kamar saya ganti dengan lampu tidur lalu saya ambil posisi tidur. Biasanya tidak lama kemudian Sita akan menyusul tidur. Beruntung saya tidak harus konser nina bobok untuk membuai Sita. Mungkin Sita sadar suara ibunya tak mirip dengan Rossa yang katanya berwajah mirip dengan ibunya, hahaha

Tips Menyapih Anak yang Efektif
 
Ini bukanlah tips dari seorang ahli, melainkan hanya tips dari seorang ibu yang baru sekali berhasil menyapih putri kesayangannya. Beberapa hal yang harus dipersiapkan adalah:

  1. Mental ibu, sesungguhnya mental ibu lah yang harus siap terlebih dahulu. Karena jika tidak siap maka ibu akan dengan mudah kembali menyodorkan senjatanya jika si anak mulai rewel. Mental ibu juga sudah harus siap dengan kemungkinan payudara sakit saat menyapih.
  2. Bantuan dari orang terdekat. Bantuan suami sungguh sangat berarti bagi saya ketika menyapih Sita. Meski suami tak berhasil memantu mengalihkan perhatian Sita, namun kemauan suami untuk mengambil alih pekerjaan rumah, memberikan semangat dan pijatan ringan sungguh menguatkan saya.
  3. Siapkan asupan makanan dan minuman yang cukup. Saya menyediakan anggaran lebih untuk susu UHT dan cemilan untuk Sita. Saat proses menyapih dan sesudahnya, nafsu makan Sita meningkat hingga 3 kali lipat. Bahkan ketika terbangun dimalam hari, Sita kadang meminta makan meski hanya sesuap dua suap.
  4. Beri aktivitas yang menguras energi anak. Rasa lelah membuat anak bisa gampang tertidur ketika siang maupun malam hari. Meski dengan demikian si ibu juga harus menyiapkan energi lebih namun ketika anak tertidur, si ibu juga bisa rehat sejenak. Sita tipikal anak yang suka bergerak jadi saya lebih sering mengajaknya keluar rumah dan memberikan aktivitas motorik seperti lari-lari, mengangkat dan mendorong mainan.
  5. Pahami perlakuan khusus yang disukai anak. Sita sangat suka digendong dan tidur di dada ibunya. Oleh karenanya ketika dia mulai rewel ketika mulai disapih, saya menggendongnya beberapa saat. Hal tersebut ternyata mampu untuk menghilangkan perasaan diabaikan karena tidak boleh menyusu. Raut wajah Sita menunjukkan rasa nyaman seperti halnya saat menyusui ketika saya gendong.

Itulah cerita dibalik proses menyapih Sita dan juga sedikit tips menyusui. Panjang juga ternyata ya, hehe Semoga bermanfaat bagi ibu-ibu yang akan menyapih da jangan lupa bagikan pengalaman menyapih ibu-ibu yaa…

3 comments :

  1. Makasih mb sharing nya..3 bulan lagi saya mau nyapih ni mb, udah deg degan dari sekarang..semoga lancar nantinya, Aamiin

    ReplyDelete
  2. Duuh sedihnya Al ..kebayang stok ASIP dibuang sunggung menyesakkan dada. Tp memang nyapih tu perjuangan bgt ga cuma baby tp emakpun sering melow

    ReplyDelete
  3. Saya komen y mb...
    Kalau saya dulu jauuuuh jauuuh hari sudah ditrainning untuk tdk menyusu..
    1. Tidak lg menidurkan anak dengan disusui.
    2. Mulai untuk memberi susu formula atau uht.
    3. Mengurangi frekuensi menyusui dengan selalu diberikan minuman yang lain.
    4. Mulai membiasakan tidak meyusui di siang hari.
    5. Dan jangan lupa selalu anak diberi input besok sekian hari lg sudah tidak minum asi lagi.
    6. Jika belum berhasil boleh juga pakai cara lama. Dengan mahoni. Tapi usahakan hindari melarang anak menyusu. Cukup diwanti2 nanti kalau asi sudah "heek" ndak usah diminum ya. Biasanya anak rewelnya bingung mau ngapain, krn pgn cari ayem dg menyusu tp si anak sndri sdh g mau menyusu

    Sekedar sharing aja sh..smg msh bs brmnfaat

    ReplyDelete