Custom Pages

Thursday, August 24, 2017

Kiat Menjadi Ibu Yang Bahagia

Thursday, August 24, 2017
Being a mother is learning about strengths you didn’t know you had, and dealing with fears you didn’t know existed.
~ Linda Wooten
Saya tidak pernah menyangka bahwa ketika memasuki dunia ibu itu sesungguhnya seperti memasuki dunia amfibi, dunia yang penuh kasih sayang namun sekaligus kejam penuh cobaan. Bagaimana tidak, ketika sedang bahagianya menimang bayi, sudah ada segala macam hal yang jika tidak sama atau sesuai standar maka siap-siap saja ada lambe-lambe turah yang nyinyir. Hanya karena saya melahirkan normal di klinik bersalin yang biayanya dua kali lipat dibanding di klinik lainnya, saya dianggap ibu yang boros. Ketika saya memutuskan untuk tidak bekerja di luar rumah untuk mengurus bayi, saya dianggap tidak sayang dengan perjuangan orang tua  membiayai sekolah hingga sarjana. Dan setiap masa akan ada bahan untuk sindiran, seperti tidak ada henti dan habis-habisnya.


Lalu, apakah menjadi ibu itu sulit untuk menjadi bahagia?


Berkaca pada diri saya sendiri, ketika hamil anak pertama, saya sadar bahwa keinginan untuk memiliki anak sudah ada. Tentunya dengan kesadaran akan resiko ketika memiliki anak. Waktu yang otomatis tersita untuk mengurus anak dan kewajiban untuk menafkahi. Itu saja. Pemikiran resiko yang dangkal dibanding kenyataannya. Tinggal bersama orang tua pasca melahirkan memang terlihat mudah karena ada yang membantu. Faktanya, saya jauh lebih tertekan karena dianggap tidak becus. Bayangkan saja, saya baru diijinkan memandikan Al, anak pertama, ketika usianya sudah satu tahun. Itu saja karena ibu yang selalu mengambil alih tugas memandikan ada keperluan di luar kota. Bahkan, ibu sempat mengusulkan untuk diseka saja karena takutnya cucu kesayangan ada apa-apa kalau saya mandikan sendiri, fiiiuhhh …

Belum lagi puas mengurus anak pertama dan hasrat untuk berkarir dari rumah untuk mewujudkan impian tercapai, saya diamanahi anak kedua. Makin banyak lagi sindiran yang saya terima. Dan rasanya, cara menjadi ibu bahagia itu terlalu sulit dicapai.

Lalu, adakah cara untuk menjadi ibu yang bahagia?

Sabtu kemarin, saya diajak untuk ikut workshop bersama psikolog, mbak Diah Rini tentang cara untuk bahagia. Sebelumnya, saya pernah mengenal mbah Diah di salah satu group chatting komunitas. Bahkan, saya pernah menghubungi beliau untuk konsultasi. Sayangnya, sesi konsultasi langsung belum terlaksana karena  tidak ada yang menjaga Sita. Saya pun mengiyakan untuk ikut seminar yang bertempat tidak jauh dari rumah orang tua, Klaten.

Kesan pertama ketika melihat mbak Diah adalah awet muda.Tubuh yang langsing dengan balutan baju casual namun rapi menyamarkan usia beliau yang sebenarnya. Siapa sangka beliau sudah memiliki 4 anak dimana usia anak sulung sudah SMA. Bersama dengan dua rekannya yang masih muda, muda dalam artian sesungguhnya karena keduanya fresh graduate, mbak Diah memulai seminar dengan sesi perkenalan.

Rupanya mbak Diah menikah ketika masih kuliah dan berumur 19 tahun. Dari keputusan beliau menikah saat berstatus sebagai mahasiswi saja sudah menuai pro kontra. Beliau bercerita, pernah ketika akan berangkat kuliah dan posisi mengandung anak ketiga, ada yang nyinyir hingga sampai ke telinga beliau.

“Si embak itu udah hamil lagi ya?”
“Iya, padahal dua anaknya aja dititipin ke mertua. Nggak kasihan mertuanya.”
“Udah gitu, malah enak-enak sekolah.”
“Woooo, masih mahasiswi koq ya udah nikah.” Bla bla bla…

Bisa dibayangkan dong perasaan mbak Diah kala itu. Beliau pun mengakui bahwa saat itu juga ada rasa sedih, kesal dan pengen menangis mendengarnya. Beruntung beliau kuliah psikologi dimana banyak teman-teman bahkan dosen yang siap menampung curhatannya.

Lalu, apakah dengan memiliki teman curhat maka semua permasalahan akan selesai dan bisa menjadi bahagia?

Sayangnya, terkadang teman curhat yang salah juga jadi bisa jadi bencana. Alih-alih lega bisa “nyampah” eh malah sampahnya jadi bertebaran kemana-mana.

Oleh karenanya, mbak Diah berbagi teknik yang bisa dilakukan secara mandiri untuk menghadapi kondisi yang tidak menyenangkan dan mengatasinya agar tidak menjadi sumber penyakit hati yang menyebabkan tidak bahagia.

1. Mensyukuri apa yang sudah ada
Dengan posisi duduk bersila dan tangan berada di atas kedua lutut dan diiringi musik klasik, mbak Diah memandu peserta untuk mengambil dan membuang nafas perlahan-lahan.  Sembari bernafas, mbah Diah mengajak peserta untuk menyukuri udara yang diberikan serta organ hidung yang bisa menghirup udara dengan lega. Bersyukur atas tubuh yang sehat, waktu yang luang, menghadirkan sosok yang dicintai yang menumbuhkan rasa bahagia, dan segala hal kebaikan yang kita terima dan berterima kasih atas segalanya. Lihatlah, ada begitu banyak sumber kebahagiaan yang terabaikan. Sumber-sumber bahagia yang perlu disadari keberadaannya, yang harus disyukuri dengan merawatnya agar senantiasa menyebar auranya.

2. Mengganti sudut pandang
Kembali ke sumber ketidakbahagian. Melalui contoh nyinyiran yang diterima mbak Diah, beliau melontarkan pertanyaan. Apakah yang diucapkan orang-orang yang nyinyir itu sesuai dengan kondisi sebenarnya? Apakah dengan disindir, hidup kita akan berubah? Apakah ketika kita berbalik dan tidak melakukan apa yang membuat kita disindir lalu kita akan bebas sindiran? Apakah ketika kita menuruti sindiran mereka, mereka akan berada disisi kita?

KENYATAANNYA TIDAK. Saat posisi itu, mbak Diah mensyukuri keputusannya menikah saat mahasiswa karena bisa dibilang sekarang beliau sudah memanen hasilnya. Karir yang tercapai dan dapat dinikmati ketika anak-anak sudah mandiri. Lalu bagaimana dengan mertua yang dititipi cucu? Mbak Diah mensyukuri bahwa mertuanya dengan senang hati bisa merawat cucu-cucunya. Memiliki banyak anak dalam waktu berdekatan, salah kah? Nyatanya mbak Diah berbahagia memiliki banyak anak dan kesemuanya dekat dengan beliau.

Sadari bahwa kesusahan yang hadir itu tak lain karena pemikiran kita yang sibuk dengan hal-hal negatif. Langkah yang kita ambil memang terkadang tidak sama dengan orang lain, lebih-lebih bisa membahagiakan orang lain. Itulah ada konsekuensi ketika kita memilih. Cukup pastikan bahwa kita sadar akan resiko dan pintar mengambil sisi positif.

3. Memaafkan penyebab kebencian
Kekecewaan yang menjadi bibit kebencian biasanya hadir karena hal yang tidak sesuai harapan. Lagi-lagi dengan posisi duduk bersila dan tangan bertumpu diatas lutut, mbak Diah mengajak untuk memaafkan diri sendiri, memaafkan orang-orang yang menyakiti, dan tak lupa untuk juga meminta maaf. Terkadang karena kita fokus dengan kesalahan orang lain, kita lupa bahwa kadang kita jugalah penyebab mereka menjadi salah. Entah salah dalam artian yang sebenarnya atau sekedar dalam pemikiran kita.

Di akhir sesi, peserta yang sebagian besar ibu-ibu bersimbah air mata. Atas permintaan mbak Diah, dua orang peserta berbagi penyebab ketidakbahagiaan. Salah seorang peserta yang memang dari awal nampak sangat terlihat memendam seuatu mengungkapkan apa yang mengganjal hatinya. Sesuatu yang selama ini beliau pendam dan simpan sendiri hingga teman dekat yang mengajaknya hadir tidak tahu menahu mengenai persoalan di rumah tangganya. Dari situlah bersambung cerita dari peserta lain yang berbagi dengan harapan bisa mencari solusi dan saling menguatkan. Saya yang menyimak saat itu menghela nafas sembari menekuri betapa tidak bersyukurnya saya. Permasalahan yang selama ini membuat saya tidak bahagia ternyata tidak ada apa-apanya dibanding masalah orang lain.

Dua orang peserta terpilih diminta menuliskan di kertas apa yang menjadi bibit kesedihan. Mereka lalu diajarkan untuk menumpahkan kekesalan dengan cara meremas-remas kertas tersebut sepuasnya lalu membuang jauh-jauh. Lalu mbak Diah mengajak keduanya untuk kembali bersyukur, kembali mengesampingkan omongan-omongan orang lain, diajak berdamai dengan diri sendiri atas apa yang menyebabkan tidak bahagia. Selintas serupa dengan tayangan ala Uya Kuya. Kedua peserta tersebut bisa tenang, tertidur hingga kemudian tercetak senyuman lega. Sungguh, momen yang sangat mengharukan dan menginspirasi.

Kini saya memiliki kiat untuk menjadi ibu bahagia. Tak mengapa jika saya harus disindir karena memilih menjadi ibu rumah tangga meski memiliki gelar sarjana demi membersamai tumbuh kembang anak. Tak mengapa saya harus repot-repot mengasuh dua anak yang berdekatan jarak kelahirannya, bagaimana pun saya mendapatkan lebih banyak tawa dari keduanya ketika akur. Tak mengapa saya kerap menerima protes dari kedua orang tua atas pilihan saya, nyatanya sayalah anak yang diberi kemampuan untuk lebih sering menengok dan membersamai beliau. Dan masih ada banyak lagi hal yang bisa disyukuri sebagai cara untuk menjadi ibu yang bahagia.

Ada kalanya kita memang membutuhkan orang lain untuk memahami apa yang terjadi dalam diri kita. Jika memang dirasa perlu, mbak Diah dan tim menerima konsultasi melalui lembaganya, Miracle.

Miracle
Mindfullness, Yoga, Training Centre, Public Speaking, Pschotherapy, Compassion, Social Community
Jl. Monumen TNI AU no. 188 Tamanan, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta
HP. 0822 423 8226

1 comment :

  1. wah nice posting..
    terkadang aku juga tergerus dengan pikiran negatif jadi terkadang merasa beban rutinitas sebagai ibu berat. Makasih pencerahannya mak, karena bener ketika melihat anak-anak bermain bersama dan akur itu sungguh membahagiakan

    ReplyDelete