Custom Pages

Monday, August 21, 2017

Seluk Beluk Pemotretan Foto Produk Bagian 1, Tips Memotret Produk Dengan Smartphone

Monday, August 21, 2017

Seberapa sering teman-teman tertarik membeli produk karena foto katalognya?  Mengingat perkembangan dunia jual beli online saat ini, terbukti bahwa hanya mengandalkan foto produk saja sudah menarik minat untuk transaksi. Bahkan ketertarikan sesorang terhadap sesuatu karena foto produk bisa menumbuhkan rasa percaya pada penjual yang belum dikenal sekalipun. Namun ternyata dibalik foto produk yang kece itu ada perjuangan yang tidak mudah dan murah. Bagi yang memiliki modal besar bisa menggunakan jasa pemotretan produk. Namun untuk produsen atau penjual modal pas-pasan seperti saya, seperti apa perjuangannya?



Kali ini saya berbicara tentang foto produk fashion. Beberapa bulan lalu, saya memutuskan untuk kembali menekuni produk fashion. Saya memilih produk mukena karena beberapa pertimbangan seperti supplier yang mudah didapat, minimal pembelian yang terjangkau dan momennya tepat.

Awalnya saya hanya mengandalkan foto produk dari supplier. Foto produk dari supplier berupa satu seri mukena yang rata-rata berisi 4-6 warna dengan 1 motif. Setelah berjalan beberapa waktu, penjualan mukena bisa dibilang lambat. Sedihnya lagi, seringkali konsumen menanyakan warna motif yang sudah habis  jika melihat satu seri warna mukena. Satu seri mukena biasanya menyisakan satu dua warna yang kurang menarik ketika disandingkan dengan warna-warna yang lain.


Oleh karenanya saya terfikirkan untuk memotret satu per satu motif dan warna mukena yang lambat penjualannya. Disinilah drama dimulai karena tidak memiliki dasar teknik fotografi produk . Pertama, saya bingung mencari lokasi pemotretan produk. Mengapa lokasi sangat penting? Hal ini berkaitan dengan background foto dan pencahayaan yang mempengaruhi tingkat warna foto produk dengan aslinya.

Pedoman saya untuk mendapatkan hasil foto produk dengan warna yang mirip dengan aslinya adalah dengan mengandalkan pencahayaan matahari langsung. Lokasi dengan pencahayaan langsung awalnya saya dapat jika mengambil lokasi di teras samping. Kedua, muncul persoalan background foto jadi tidak cantik karena dinding kotor akibat tempias hujan.

Saya sempat mengakali background dinding dengan menggunakan kain. Urusan memilih warna kain background pun tidak kalah seru. Saya bertanya tentang kain yang cocok untuk background foto warna putih di salah satu media sosial. Tak disangka sebagian besar menyarankan kain kafan. Stigma kain kafan yang melekat pada jenazah dan erat dengan kematian sempat membuat gentar untuk membeli. Padahal sebenarnya kain kafan hanyalah salah satu jenis kain katun pada umumnya. Berdasarkan pertimbangan kain kafan ini termasuk yang paling murah dan mudah didapat, saya akhirnya memberanikan diri membeli di toko kain terdekat.

Ternyata menggunakan kain untuk background foto tidak praktis. Lokasi pemotretan yang terpapar sinar matahari dan hujan membuat saya harus bongkar pasang background foto. Selain menyita waktu, bongkar pasang background juga melelahkan. Belum lagi kain yang meski dilipat rapi menyisakan lekukan yang terlihat. Hasilnya latar belakang foto masih tidak memuaskan.


Salah seorang teman menyarankan untuk melalukan pemotretan di dalam ruangan dengan bantuan lampu. Sempat mengikuti saran tersebut dan mengganti lampu salah satu kamar dengan pencahayaan yang lebih terang namun hasilnya belum juga memuaskan.Hasil warna foto produk masih berbeda dengan aslinya dan ada bayang-bayang produk di latar belakang.

Saya pun mencoba menggunakan garasi yang masih mendapatkan pencahayaan alami matahari dari sisi kanan, kiri maupun belakang. Berdasarkan beberapa kali percobaan, saya mendapatkan pencahayaan yang tepat. Waktu pemotretan bisa dilakukan pukul  10.00 – 12.00 dan 14.00-15.00. Di luar jam tersebut, hasil warna foto produk cenderung lebih gelap atau terang.

Urusan latar belakang, saya mengandalkan bagian dinding dan daun pintu yang kondisi cat masih bagus. Dengan demikian, saya cukup melakukan koreksi untuk menambahkan keterangan detail produk. Saya menggunakan aplikasi PICSART yang terpasang di smartphone karena foto produk juga menggunakan kamera smartphone. Jadi tidak perlu memindahkan foto untuk editing. Bisa dibilang inilah cara memotret produk dengan hp yang paling praktis. Berikut beberapa foto produk mukena yang dihasilkan.



Oh ya, saya menggunakan manekin setengah badan untuk model mukena. Manekin ini saya beli seharga 100ribuan, tepatnya saya lupa. Alhamdulillah, saya bisa menghasilkan foto produk yang menarik dengan modal manekin murah meriah dan mengandalkan kamera smartphone serta sedikit sentuhan menggunakan aplikasi.

Trik memotret produk per warna motif terbukti meningkatkan penjualan produk mukena. Tidak ada lagi istilah ada warna atau motif yang tidak laku. Dengan demikian saya bisa selalu menghadirkan warna dan motif mukena baru setiap periode.

Bagi teman-teman yang berminat mengetahui cara memotret dan edit foto mukena menggunakan smartphone versi audio visual, bisa subscribe dulu chanel youtube saya berikut:


Nantikan juga postingan saya tentang seluk beluk pemotretan produk fashion lainnya yaitu produk hijab. Semoga tips memotret produk dengan smartphone ini bermanfaat.

No comments :

Post a Comment