Custom Pages

Wednesday, August 9, 2017

Tolong, Jangan Pisahkan Saya Dengan Putra Sulung Saya

Wednesday, August 9, 2017

Menikah, memiliki anak lalu hidup bersama hingga kemudian anak-anak siap memiliki keluarga sendiri lalu meninggalkan dunia ini dengan tenang. Terdengar normal namun ternyata tidak semua orang bisa dan ditakdirkan demikian. Ada kalanya standar normal itu sangat sulit dilakukan, sedemikian sulit hingga membuat yang melakoni serasa hidup tak mau, mati pun segan. Terlebih dengan orang-orang sekitar yang “nyinyir” dengan kondisi di luar standar, bahkan orang terdekat sekalipun.

Bisa dibilang semua berawal dari kesalahan saya. Saya meminta ijin suami untuk tinggal bersama orang tua saat usia kandungan anak pertama memasuki usia 9 bulan. Saya merasa kesepian ketika cuti kerja sudah diambil dan kesepian karena suami lebih sering keluar kota. Saya pun pulang. Menikmati hari-hari menjelang kelahiran anak pertama dengan santai bersama kerabat dekat dan lingkungan yang sudah akrab sedari kecil. Saya bahagia, meski jauh dari suami.

Hari kelahiran yang mundur 10 hari dari perkiraan akhirnya tiba. Sosok bayi hadir yang membuat kedua orang tua saya menjadi kakek nenek. Cucu pertama laki-laki yang membuat bapak menangis dan menciumi putri keduanya ini. Tidak butuh waktu lama untuk memulihkan diri pasca persalinan normal. Persalinanberlangsung dini hari dan sore harinya saya sudah kembali kerumah.

Lazimnya adat dirumah, saya sudah disambut warga sekitar yang akan bersiap mengadakan acara “lek-lek-an”. Semacam acara untuk menyambut dan mendoakan sang ibu dan anak yang baru lahir. Warga sekitar akan berada dirumah sampai tengah malam sambil di suguhi bubur nasi dan ketan. Semuanya terlihat normal hingga keesokan hari yang memulai perjalanan baru dimulai.

Kesibukan suami membuat beliau harus kembali meninggalkan saya keesokan harinya. Terang saja kedua orang tua saya melarang saya dan anak untuk ikut karena lagi-lagi adat di daerah saya melarang bayi keluar rumah sebelum usia 40 hari. Saya pun tak terlalu mempermasalah jika harus tinggal 40 hari lagi dirumah.

Empat puluh hari berlalu. Ternyata tidak mudah untuk nekat kembali mengikuti suami membawa bayi tanpa restu orang tua. Saya tak punya keberanian untuk menolak hingga tak terasa saya tetap tinggal hingga Al, nama anak sulung saya, berusia hampir 1 tahun. Meski bisa dibilang, hubungan saya dengan suami kala itu sangat kacau. Sebagai bentuk protes, suami yang sebelumnya pulang seminggu sekali menjadi pulang dua minggu sekali, bahkan pernah hanya sebulan sekali.

Saya akhirnya nekat ikut suami ke Semarang. Rupanya kebersamaan kedua orang tua saya dengan cucu pertamanya selama hampir setahun membuat beliau masih juga tidak ridho ketika saya membawa Al. Saya menyerah ketika si kakek akhirnya sering sakit-sakitan dan saya menjadi kambing hitam. Ibu, saudara-saudara menganggap saya egois karena tidak mau tinggal supaya Al tetap bisa bersama-sama dengan kakek neneknya. Tak mau dibilang durhaka, saya memutuskan untuk pulang. Dan kehidupan rumah tangga saya pun kembali tergadai. Saya dirumah dan rela hanya didatangi suami sesekali hingga kemudian lahir anak kedua, Sita saat usia Al baru 2 tahun. Sontak itu semakin membuat saya tertahan dirumah karena bapak ibu meragukan saya bisa mengasuh anak dengan jarak usia dekat sendirian. Protes suami dalam bentuk jarang pulang dianggap orang tua sebagai bukti suami tidak bertanggung jawab.

Saya bertahan hingga Sita berusia 2 tahun. Usia pernikahan yang memasuki tahun keenam saya rasakan sangat tidak sehat dan seperti jalan di tempat. Saya ingin melakukan sesuatu untuk keluarga kecil saya. Saya berdiskusi dengan suami. Hasilnya, suami meminta saya mengikhlaskan Al tinggal bersama bapak ibu dan saya beserta Sita ikut suami ke Magelang. Bukan hal yang mudah untuk menerima hasil diskusi tersebut. Bagaimana bisa saya jauh dari anak pertama yang masih balita. Bagaimana jika nantinya Al merasa bahwa saya meninggalkannya. Bagaimana jika Al kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya di usia emasnya. Sejuta pertanyaan dan kekhawatiran bergelanyut dalam pikiran saya. Bahkan sempat saya berfikir bahwa suami tidak sayang Al, putra sulungnya karena demikian mudah merelakan Al.

Bismillah, akhirnya saya mengikuti suami ke Magelang. Tentunya dengan meninggalkan Al bersama bapak ibu. Jangan ditanya ketika saya baru berkemas pindah. Bapak ibu mendiamkan sepanjang hari meski sambil menata barang-barang yang sekiranya saya perlukan. Al nampak kebingungan ketika pakaian ibu dan adiknya dikemasi sedangkan pakaiannya aman di lemari. Bapak lalu berinisiatif membawa Al jalan-jalan dan menyuruh saya berangkat sebelum Al pulang. Saya menurutinya dan sepanjang perjalanan saya menangis. Saya bahkan melupakan Sita yang juga nampak bingung. Meski Sita berusaha mencuri perhatian saya, saya tak sanggup menyembunyikan kesedihan.

Saya berusaha memfasilitasi bapak dengan smartphone yang memungkinkan untuk video call. Sayang, ketika saya melakukan panggilan video ketika sampai di Magelang, Al menangis meraung-raung dan otomatis bapak mematikan panggilan. Sejak saat itu, bapak ibu melarang saya untuk melakukan panggilan ketika ada Al. Perasaan saya sebagai seorang ibu hancur seketika. Namun suami kembali mengingatkan bahwa ada Sita yang butuh perhatian saya. Suami juga menyuruh untuk berdoa dan yakin bahwa anak tidak akan lupa orang tuanya. Secara naluri anak akan tetap ingat dan sayang orang tuanya. Saya diam meski tak sepenuhnya mengamini perkataan suami.

Kini hampir setengah tahun saya menjalani rutinitas PP Magelang-Klaten seminggu sekali untuk menengok Al. Meski anggaran menengok Al menguras hampir seperempat angggaran bulanan, saya tidak peduli. Bayangan Al acuh pada saya terlalu menakutkan. Terlebih ketika Al menolak ketika saya mencoba untuk mengajaknya. Al memilih ikut bapak ibu. Lengkap sudah keyakinan saya bahwa Al menolak saya sebagai ibunya.

Sering dalam sujud saya mengadu pada-NYA, mengapa saya harus melakoni kehidupan seperti ini? Saya ingin normal seperti keluarga lainnya yang bisa berkumpul bersama suami dan anak-anaknya. Doa saya pun sepertinya dikabulkan. Meski tak serta merta Al bisa ikut bersama saya, saya menjadi memiliki ide apa yang harus saya lakukan pada Al untuk menunjukkan bahwa saya sayang padanya. Perlahan-lahan saya jadi jauh lebih tenang. Saya yakin Al akan baik-baik saja dan mengerti nantinya. Al pun menunjukkan perilaku yang positif. Bahkan, Al sendiri meminta ijin pada kakek neneknya untuk ikut saya. Al memberesi semua mainan yang ingin dia bawa ke Magelang. Kakek neneknya tak kuasa menolak dan saya pun membawa Al.

Drama bapak sakit kembali terulang dan otomatis saya menjadi kambing hitam lagi. Saya pasrah. Al saya bawa pulang dan meninggalkannya lagi. Beruntung saya membaca sharing salah satu teman blogger senior yang sudah memiliki 4 anak. Dalam postingannya berjudul “Anak Pasti Akan Memilih Ibunya”, beliau dengan tegas menuliskan bahwa kodrat anak-anak akan tetap sayang pada orang tuanya. Ditengah gempuran sindiran anak-anak baby sister, anak-anak ibu bekerja, beliau yakin anak-anaknya tetap membutuhkannya.

Beliau memberikan tips bahwa seorang ibu hanya perlu menghilangkan segala bentuk perasaan dan pikiran negatif. Beliau percaya anak-anaknya baik-baik saja.  Percaya pada Tuhan yang pasti juga akan menjaga anak-anak dengan cara-NYA. Tentunya diimbangi dengan kehadiran yang nyata ketika saatnya orang tua bersama anak-anaknya. Ketika tidak bisa berperan secara kuantitas, berperanlah secara kualitas. Dan nyatanya, anak-anak beliau yang kini sudah beranjak remaja tetap “berpulang” padanya dalam keadaan suka dan dukanya.

Meski kondisinya tak persis sama, saya jadi jauh lebih lega karena saya tidak sendiri. Saya masih bisa memaksimalkan peran saya sebagai ibu pada putra sulung kesayangan dan itu terbukti. Respon Al pun juga membaik hari demi hari. Saya tetap menaruh harapan tentang keluarga yang normal sebagaimana mestinya. Meski jujur jauh dalam hati saya masih ingin berteriak, “Tolong, jangan pisahkan saya dengan putra sulung saya.”

31 comments :

  1. Kuat yaa mba Fen, semoga ayah ibu juga makin dibukakan petunjuk yang terbaik :). Insya allah "Percaya pada Tuhan yang pasti juga akan menjaga anak-anak dengan cara-NYA. Tentunya diimbangi dengan kehadiran yang nyata ketika saatnya orang tua bersama anak-anaknya" bisa jadi penguat yaa

    ReplyDelete
  2. Ya Allah.. sabar ya Mbak Fen.. Semoga Allah segera memberikan solusi yang terbaik untuk semuanya.

    ReplyDelete
  3. Serba salah ya, sang kakek dan nenek sayang banget dengan cucunya, sampai jatuh sakit saat ditinggal. Semoga segera tiba saatnya, kakek nenek bisa ikhlas melepas si sulung tinggal bersama Ayah Ibunya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Si nenek sudah ikhlas mbak, kakeknya yang belum, hiks

      Delete
  4. air mataku ngembeng bacanya :(

    ReplyDelete
  5. Semoga segera bisa kumpul lagi ya Mba'. Alhamdulillah kedua orang tua saya tidak ada yang seperti itu, kedua anak saya kami asuh berdua dengan suami, karena kami tinggal jauh dari mertua dan orang tua. Sebagai gantinya, kami rutin mengunjungi orang tua maksimal 3 bulan sekali, lalu saya dan anak2 tinggal lama, paling cepat 2 minggu, baru kembali ke rumah suami. Orang tua saya yang di luar Jawa, malah setahun sekali kami kunjungi.
    Terus berdo'a semoga kedua orang tua Mba' dilembutkan hatinya membolehkan putranya dibawa mengkuti suami ya Mba', kalo sudah boleh, jangan lupa terus jalin komunikasi dan silaturrahim yang baik dengan orang tua dan mertua, semangat Mba'. :)

    ReplyDelete
  6. Sabar ya Feen, serba salah emang rasanya. Mudah2an segera dapat jalan keluar yang terbaik yah. Peluuk.

    ReplyDelete
  7. Diberi pengertian terus fen sama bapak ibu, moga ada jalan keluarnya ya..

    ReplyDelete
  8. Bapak ibuk diajak tinggal di Magelang gimana, Mbak? Nanti kalau kangen rumahnya di Klaten, pulang sesekali.

    Ya, nanti kan kita harus memikirkan ke depannya tentang sekolah Al juga. Setidaknya ada yang ngajarin pelajaran sekolah, mengarahkan ekskul, dll.

    Ada anggota keluarga/kakak adik yang bisa diajak diskusi misalnya untuk memberikan pengertian kepada kakek neneknya. Agar ada penengah juga.

    Semoga segera ada jalan keluar ya, Mbak. Berdoa semua bapak ibuk dilembutkan hatinya untuk masa depan keluarga kecil, Mbak Fenny. Aamiin...

    ReplyDelete
  9. Ikut nggregel mb bacanya.
    Smg keadaan segera membaik ya mb

    ReplyDelete
  10. Sabar ya mbak fen, anggep saja menyenangkan hati ortu, karena mbak fen kan udah diajak suami dan ada sita, ortu mbak fen kesepian kalau gak ada Al, mamah bapakku suka curhat kadang jauh ma anak adikku di bandung al dan aya dan runa di karawang, memang bener kakek nenek sayang ma cucu melebihi anaknya, ortuku juga gitu walau capek ngasuh balita, batita dan bayi tapi happy, kalau berdua aja di garut mesti sakit ini itu, aku anak tertuanya belum ada anaknya, nah aku sebagai kakak tertua menengahi agar ortuku sesekali ke bandung seminggu dua minggu atau ke karawang bermain ama cucunya, dan nitip adik-adikku supaya mamah bapak dijaga kesehatannya, karena dulu ortuku bekerja di tarogong sementara nenek kakekku di sadang dan cileunyi, nah yang bulak balik dari sadang tarogong kakek nenekku, memang tak semudah bisa ambil alih oeran, butuh legowo dan keikhlasan dari masing-masing pihak 😊

    ReplyDelete
  11. I feel uuu, Fenny sayaang... Aku pernah ngalami neski satu kota. Ngalami gmn malam2 gak bisa tidur krn si sulung mesti nginap di rumah mbah kakungnya. Meski anya sebentar tapi tetap aja jadi drama. Semoga ada waktu terbaik kalian berkumpul dalam satu rumah.

    ReplyDelete
  12. Sedih amat mba. Aku bisa stres berat klo kyk gitu. Memang ya kdg punya anak yg disayang nenek kakek dilema jg. Aisyah jg gt disyg bgt sm kakeknya tp rmh deket sm mertua jd bs bolak balik.

    Sabar ya mba, smg dimudahkan segala urusan, aamiin

    ReplyDelete
  13. Sedih baca nya, sabar ya bunda nt ada masa nya bersama anak anak

    ReplyDelete
  14. Doa2 terbaik untuk keluarga kalian ya, Mba. Moga hati bapak-ibu menjadi lebih paham apa yg dimau Mba dan suami 🙂

    ReplyDelete
  15. Mbk fennyyyy, semoga segera mendpatkn solusi terbaik dr Allah ya mbk, amin amin ya robbal'alamin,

    ReplyDelete
  16. Semoga diberi jalan keluar yang sama-sama enak ya... kakek nenek nya terlanjur sayang banget, meski caranya kurang enak di sisi mbak. Mbak luar biasa sabar menerima ini.

    ReplyDelete
  17. Kalo pendapat saya sangat berbeda....anak saya sekarang sdh SMP, anak tunggal, waktu balita hingga SD diasuh ortu, krn jg cucu tunggal dari mana2

    Buat saya, malah bersyukur, anak saya banyak yg menyayangi. Saya tidak meratapi mengapa harus berpisah dg anak, saat anak dg saya, itu adalah waktu saya dan anak, saat dg Kakek Neneknya, itu jg rejeki anak saya

    Saat anak saya SMP, ganti anak saya yg sering saya titipi jaga Neneknya krn Neneknya sakit, bila saya harus luar kota. Dan anak saya ngerti, Neneknya harus dijaga. Anak yang sejak kecil tidak kemana2 dengan ibu, lebih mandiri. Anak saya dibanding dg saya yg kemana2 dibuntutin ibu, lebih mandiri anak saya, yg hrs pindah2 tinggal berbagi kasih sayang

    ReplyDelete
  18. Sabar ya mba.Toh sama kakek-neneknya..bukan sama orang lain mba.. gpp dulu. Biasanya sama Kakek-nenek malah lebih dimanja :-)
    ato pke alasan sekolah aja mba..sekolah di magelang misalnya. Nanti jenguk simbah Klatennya dua minggu sekali misalnya...

    ReplyDelete
  19. semoga bisa segera dikumpulkan sama anaknya ya, mbak. sedih banget baca ceritanya

    ReplyDelete
  20. Terharu tenanan mbak baca kisahnya.. Yang semangat ya mbak...

    ReplyDelete
  21. Diriku baca sambil ngebayangin kisahmu mbak Fen. Rasanya pilu sekali.

    Posisimu seperti papaku dulu Mba. Sejak SD, kami ga serumah dengan papa dan mama. Memang kami 1 kota. Hanya saja kesibukan aktifitas sekolah dan les, mengakibatkan kami jarang jumpa dengan papa. Iya, karena jarak 5 mrnit jalan kaki dari rumah kakek-nenek lebih dekat dengan sekolah dan tempat les, sehingga kami tinggal di rumah nenek-kakek. Memang masih dini belum ngerti kenapa nggak 1 atap tempat tinggal. Nah, saat mulai memasuki SMP, saya baru sadar.

    Kami baru bisa berkumpul 1 atap rumah saat hampif lulus kuliah. Ternyata perasaan "kikuk" untuk berkumpul lagi, itu semua hanya persepsi negatif saja.

    Aku yakin suatu saat Al akan berkumpul dengan ayah ibunya.

    ReplyDelete
  22. sabar y mba Fen semoga cepat ada jalan keluar tanpa menyakiti kakeknya ☺️ kakak Al pasti nanti bisa kumpul sama mb dan keluarga aamiin

    ReplyDelete
  23. Sedih bacanya Mbak, saya bantu doakan moga hati Kakeknya ikhlas buat ngelepas si sulung. Repot memang ya kalo digandoli, mana mungkin juga kan bermusuhan sama orang tua :((

    ReplyDelete